Selasa, 20 Oktober 2015

Pertumbuhan Ekonomi menurut BI dan BPS

Suasana gedung bertingkat di kawasan Jakarta Pusat, Jumat (15/5/2015). Perlambatan ekonomi Indonesia di triwulan I tahun 2015 sebesar 4,7 persen dinilai para pengamat ekonomi sangat mengkhawatirkan.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,9 persen pada kuartal III. Pertumbuhan ekonomi ditopang oleh belanja pemerintah yang terus meningkat. "Terkait dengan kuartal III assessment sama sekitar 4,9 persen memang terutama didorong belanja modal pemerintah yang sudah naik 28 persen yoy," kata Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi BI, Yudha Agung di Jakarta, Kamis (15/10/2015).

Dia mengatakan, indikator tersebut dilihat dari melesatnya proyek infrastruktur pemerintah yang kemudian disertai oleh peningkatan penjualan semen. Namun, pertumbuhan ekonomi ini dirasa masih belum kuat mengingat belanja pemerintah belum memberikan dorongan pada sektor swasta.

"Kami lihat indikator investasi dan konsumsi sektor swasta belum terlalu kuat. Investasi non bangunan, kemudian investasi bangunan sektor swasta komersial belum terlalu kuat. Tidak sekuat pemerintah, pemerintah masih leading," jelas Yudha. Pihaknya meyakini pertumbuhan ekonomi akan lebih baik pada kuartal IV terutama juga didorong oleh sektor swasta. "Tetapi kami lihat saat ini belum memberikan efek multiplier yang kuat ke sektor swasta," tandas dia. Sebelumnya BI memprediksikan pertumbuhan ekonomi mencapai 4,7 persen-5,1 persen pada 2015.

Sementara itu beberapa bulan yang yang lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,67 persen pada kuartal II 2015, melambat dari periode yang sama tahun lalu (year on year) mencapai 5,12 persen. Perekonomian nasional juga melambat jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang tumbuh 4,71 persen secara tahunan.

Kepala BPS Suryamin mengatakan Produk Domestik Bruto (PDB) nominal atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp 2.866,9 triliun. Dia menjelaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dipengaruhi oleh kondisi perekonomian global yang belum menggembirakan. "Perekonomian global pada triwulan II 2015 diperkirakan melambat masih dipicu oleh rendahnya harga komoditas di pasar internasional dan ketidakpastian Fed fund rate (suku bunga AS)," ujar Suryamin dalam konferensi pers di Kantor BPS Pusat, Jakarta, Rabu (5/8).

Suryamin menilai wajar jika pertumbuhan ekonomi Indonesia masih belum menggembirakan. Kendati demikian, menurutnya angka 4,67 persen tersebut dinilai lebih baik dibandingkan dengan negara-negara lain. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi negara mitra dagang Indonesia juga masih cenderung stagnan dan bahkan melemah. Suryamin mencontohkan, pertumbuhan Amerika Serikat melemah dari 2,9 persen pada kuartal I 2015 menjadi 2,3 persen pada kuartal II. "China stagnan pada posisi pertumbuhan 7 persen, Singapura melemah dari 2,1 persen pada kuartal I 2015 menjadi 1,7 persen pada kuartal II 2015. Artinya bahwa kepada negara kita tentu akan ada imbasnya," ujarnya.

Secara sektoral, lanjut Suryamin, tercatat sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami pertumbuhan paling tinggi, yakni 10,09 persen atau meningkat dari 7,73 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan ekonomi pada 2016 diperkirakan mencapai 5,3 persen-5,7 persen. (Amd/Ahm).





Dikutip dari :




Pada Tanggal   : 21 Oktober 2015.
Pukul               : 13.30 WIB.
Tempat            : Perpustakaan ITENAS Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar